Sabtu, 16 Maret 2013

Berbagai Hadits Tentang Dajjal

Menjelang Kiamat, akan muncul Dajjal (bahasa Arab: الدّجّال al-dajjāl). Artinya pembohong besar. Bisa disebut juga sebagai Al Masih Dajjal. Dajjal ini kelak akan diperangi oleh Imam Mahdi dan Nabi Isa.
Ciri-cirinya menurut berbagai hadits adalah sebagai berikut. Sesungguhnya Dajjal adalah seorang pemuda keturunan Yahudi yang rambutnya sangat keriting, matanya menonjol, seolah-olah saya menyamakannya dengan Abul ‘Uzza bin Qathan. Dajjal itu akan keluar di Khallah, suatu jalanan yang terletak antara Syam dan Irak, kemudian dia membuat kerusakan besar. Badannya besar dan berwarna merah.

Berikut adalah Hadits-hadits tentang Dajjal :


Dajjal awalnya cuma mengaku sebagai Nabi. Setelah itu dia mengaku sebagai Tuhan:
Rasulullah SAW bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Umamah Al Bahili, “Di awal kemunculannya, ia berkata: ‘Aku adalah Nabi. Padahal tidak ada nabi setelahku. Kemudian ia memuji dirinya sambil berkata: ‘Aku adalah Rabb kalian’, padahal kalian tidak dapat melihat Rabb kalian sehingga kalian mati.” (HR. Ibnu Majjah. II/512-516)
Dajjal buta sebelah matanya. Dan di antara kedua matanya tertulis huruf Kaf, Fa, dan Ro (Kafir).
Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tiada seorang Nabipun yang diutus oleh Allah, melainkan ia benar-benar memberikan peringatan kepada umatnya tentang makhluk yang buta sebelah matanya serta maha pendusta. Ingatlah sesungguhnya Dajjal itu buta sebelah matanya dan sesungguhnya Tuhanmu ‘Azzawajalla semua itu tidaklah buta sebelah mata seperti Dajjal. Di antara kedua matanya itu tertulislah huruf-huruf kaf, fa’, ra’ -yakni kafir.” (Muttafaq ‘alaih)
Dajjal juga membawa air (surga) dan api (neraka). Apa yang kita lihat sebagai api, ternyata air. Sedang yang kita lihat seperti air, ternyata api:
Dari Buraidah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidakkah engkau semua suka saya beritahu perihal Dajjal, yaitu yang belum pernah diberitahukan oleh seorang Nabipun kepada kaumnya. Sesungguhnya Dajjal itu buta sebelah matanya dan sesungguhnya ia datang dengan sesuatu sebagai perumpamaan syurga dan neraka. Maka yang ia katakan bahwa itu adalah syurga, sebenarnya adalah neraka.” (Muttafaq ‘alaih)
Dari Ibnu Umar ra bahwasanya Rasulullah s.a.w. menyebut-nyebutkan Dajjal di hadapan orang banyak, lalu berkata: “Sesungguhnya Allah itu tidak buta sebelah matanya. Ingatlah bahwa sesungguhnya al-Masih Dajjal itu buta sebelah matanya yang sebagian kanan, seolah-olah matanya itu adalah sebuah biji anggur yang menonjol.” (Muttafaq ‘alaih)
Dari Rib’iy bin Hirasy, katanya: “Saya berangkat dengan Abu Mas’ud al-Anshari ke tempat Hudzaifah al-Yaman ra, lalu Abu Mas’ud berkata kepadanya: “Beritahukanlah kepadaku apa yang pernah engkau dengar dari Rasulullah s.a.w. perihal Dajjal.” Hudzaifah lalu berkata: “Nabi s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Dajjal itu keluar dan sesungguhnya beserta Dajjal itu ada air dan api. Adapun yang dilihat oleh para manusia sebagai air, maka sebenarnya itu adalah api yang membakar, sedang apa yang dilihat oleh para manusia sebagai api, maka sebenarnya itu adalah air yang dingin dan tawar. Maka barangsiapa yang menemui Dajjal diantara engkau semua, hendaklah masuk dalam benda yang dilihatnya sebagai api, karena sesungguhnya ini adalah air tawar dan nyaman sekali.” Setelah itu Abu Mas’ud berkata: “Sayapun benar-benar pernah mendengar yang seperti itu.” (Muttafaq ‘alaih)
Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash ra, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Dajjal itu akan keluar kepada umatku kemudian menetap selama empat puluh lamanya, tetapi saya tidak mengerti apakah itu empat puluh hari atau empat puluh bulan atau empat puluh tahun. Kemudian Allah mengutus Isa putera Maryam a.s. lalu ia mencari Dajjal kemudian merusakkannya -yakni membunuhnya. Kemudian para manusia itu menetap selama tujuh tahun di saat itu tidak ada permusuhan sama sekali antara dua orang manusiapun. Selanjutnya Allah ‘Azzawajalla mengutus angin yang dingin dari arah Syam (Palestina). Maka tidak ada seorangpun yang menetap di atas permukaan bumi yang dalam hati orang itu ada timbangan seberat semut kecil dari kebaikan atau keimanan, melainkan pasti akan dicabut nyawanya sehingga andaikata salah seorang dari engkau semua ada yang masuk di dalam perut gunung, juga pasti akan dimasuki oleh angin tadi, sampai dapat tercabut nyawanya. Akhirnya yang ketinggalan adalah manusia-manusia yang buruk kelakuannya yang suka cepat-cepat melakukan keburukan dan kezaliman sampai dapat diumpamakan sebagai keringanan burung yang sedang terbang atau angan-angan binatang buas yang hendak memangsa. Orang-orang tersebut tidak mengerti apa-apa yang baik dan tidak mengingkari apa-apa yang buruk -yakni kemungkaran dibiarkan belaka. Seterusnya lalu muncullah syaitan yang menjelma sebagai manusia lalu berkata: “Alangkah baiknya kalau engkau semua suka mengikuti perintahku?” Orang-orang sama berkata: “Apakah yang engkau perintahkan kepada kita?” Kemudian syaitan tersebut mengajak mereka menyembah berhala-berhala. Keadaan para manusia di saat itu adalah sangat luas rezekinya, senang hidupnya. Selanjutnya ditiupkanlah dalam sangkakala, maka tiada seorangpun yang mendengarnya melainkan ia menurunkan lehernya yang sebelah dan mengangkat yang sebelah lainnya. Pertama-tama orang yang mendengarnya itu ialah seorang yang sedang memperbaiki pelur kolam untanya, lalu ia tidak sadarkan diri dan semua manusia di sekitarnyapun tidak sadarkan diri -terus mati. Kemudian Allah mengirimkan atau sabdanya: Menurunkan hujan bagaikan rintik-rintik atau bagaikan bayangan, lalu dari air itu tumbuhlah seluruh tubuh para manusia, terus ditiupkanlah pula sekali lagi sangkakala tersebut tiba-tiba orang-orang itu sama berdiri bangun sambil memperhatikan keadaan di waktu itu, kemudian ada yang mengucapkan: “Hai sekalian manusia, marilah sama mendekat di hadapan Tuhanmu semua,” dan kepada semua malaikat diperintahkan: “Hentikan dulu orang-orang itu, sebab sesungguhnya mereka akan ditanya lebih dulu.” Kemudian dikatakan pula: “Keluarkan olehmu semua orang-orang itu perlu dikirim ke neraka.” Selanjutnya ditanyakan: “Dari berapa?” Lalu dijawab: “Dari setiap seribu -orang- sebanyak sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang.” Sabdanya: “Itulah hari yang dapat membuat anak-anak kecil menjadi beruban dan itulah hari dibukanya betis manusia, karena amat kebingungan sekali.” (Riwayat Muslim) Alliitu ialah batang leher, artinya ialah merendahkan lehernya yang sebelah dan mengangkat sebelah yang lainnya.
Dajjal tidak akan bisa memasuki kota Mekkah dan Madinah:
Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tiada suatu negeripun melainkan akan diinjak oleh Dajjal, kecuali hanya Makkah dan Madinah yang tidak. Tiada suatu lorongpun dari lorong-lorong Makkah dan Madinah itu, melainkan di situ ada para malaikat yang berbaris rapat untuk melindunginya. Kemudian Dajjal itu turunlah di suatu tanah yang berpasir -di luar Madinah- lalu kota Madinah bergoncanglah sebanyak tiga goncangan dan dari goncangan-goncangan itu Allah akan mengeluarkan akan setiap orang kafir dan munafik.” (Riwayat Muslim)
Dajjal kemudian akan muncul di Khurasan diikuti oleh orang-orang yang wajahnya seperti tameng yang ditempa palu (Bangsa Mongol / Cina?):
Tirmidzi, Ibn Majah, Hakim, Ahmad, dan Dhiya’ dalam al-Mukhtar, dari Abu Bakar Shiddiq yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sesungguhya Dajjal muncul disebuah daerah di timur bernama Khurasan. Ia diikuti oleh orang-orang yang wajahnya seperti tameng yang ditempa palu.”
Dajjal juga akan diikuti 70 ribu kaum Yahudi Isfahan yang memakai pakaian pendeta:
Dari Anas r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Yang mengikuti Dajjal dari golongan kaum Yahudi Isfahan itu ada sebanyak tujuh puluh ribu orang. Mereka itu mengenakan pakaian kependetaan.” (Riwayat Muslim)
Dari Ummu Syarik ra bahwasanya ia mendengar Nabi s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya sekalian manusia itu sama melarikan diri dari gangguan Dajjal yaitu ke gunung-gunung.” (Riwayat Muslim)
Dari Imran bin Hushain ra, katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tiada suatu peristiwapun antara jarak waktu semenjak Allah menciptakan Adam sampai datangnya hari kiamat nanti, yang lebih besar daripada perkara Dajjal.” (Riwayat Muslim)
Dari Abu Said al-Khudri r.a. dari Nabi s.a.w. sabdanya: “Dajjal keluar lalu ada seorang dari golongan kaum mu’minin, ia ditemui oleh beberapa orang penyelidik yakni para penyelidik dari Dajjal. Mereka berkata kepada orang itu: “Kemana engkau bersengaja pergi?” Ia menjawab: “Saya sengaja akan pergi ke tempat orang yang keluar -yakni yang baru muncul dan yang dimaksudkan ialah Dajjal.” Mereka berkata: “Adakah engkau tidak beriman dengan Tuhan kita -yakni Dajjal-?” Ia menjawab: “Tuhan kita tidak samar-samar lagi sifat-sifat keagungannya sedangkan Dajjal itu tampaknya saja menunjukkan kedustaannya.” Orang-orang itu sama berkata: “Bunuhlah ia.” Sebagian orang berkata kepada yang lainnya: “Bukankah engkau semua telah dilarang oleh Tuhanmu kalau membunuh seorang tanpa memperoleh persetujuannya -yakni Dajjal-?” Merekapun pergilah dengan membawa orang itu ke Dajjal. Setelah Dajjal dilihat oleh orang mu’min itu, lalu orang mu’min tadi berkata: “Hai sekalian manusia, sesungguhnya inilah Dajjal yang disebut-sebutkan oleh Rasulullah s.a.w. Dajjal memerintah pengikut-pengikutnya menangkap orang mu’min itu lalu ia ditelentangkan pada perutnya. Dajjal berkata: “Ambillah ia lalu lukailah kepala dan mukanya.” Seterusnya ia diberi pukulan bertubi-tubi pada punggung serta perutnya. Dajjal berkata: “Adakah engkau tidak suka beriman kepadaku?” Orang mu’min itu berkata: “Engkau adalah al-Masih maha pendusta.” Ia diperintah menghadap kemudian digergajilah ia dengan gergaji dari pertengahan tubuhnya, yaitu antara kedua kakinya -maksudnya dibelah dua. Dajjal lalu berjalan antara dua potongan tubuh itu, kemudian berkata: “Berdirilah.” Orang mu’min tadi terus berdiri lurus-lurus, kemudian Dajjal berkata padanya. “Adakah engkau tidak suka beriman kepadaku?” Ia berkata: “Saya tidak bertambah melainkan kewaspadaan dalam menilai siapa sebenarnya engkau itu.” Selanjutnya orang mu’min itu berkata: “Hai sekalian manusia, janganlah ia sampai dapat berbuat sedemikian tadi kepada seorangpun dari para manusia, setelah saya sendiri mengalaminya.” Ia diambil lagi oleh Dajjal untuk disembelih. Kemudian Allah membuat tabir tembaga yang terletak antara leher sampai ke tengkuknya, maka tidak ada jalan bagi Dajjal untuk dapat membunuhnya. Seterusnya Dajjal lalu mengambil orang tadi, yaitu kedua tangan serta kedua kakinya, lalu melemparkannya. Orang-orang sama mengira bahwa sesungguhnya orang itu dilemparkan olehnya ke neraka, tetapi sebenarnya ia dimasukkan dalam syurga.” Setelah itu Rasulullah s.a.w. bersabda: “Orang itulah sebesar-besar para manusia dalam hal kesyahidannya -yakni kematian syahidnya- di sisi Allah yang menguasai semesta alam ini.” Diriwayatkan oleh Imam Muslim. Imam Bukhari juga meriwayatkan sebagiannya dengan uraian yang semakna dengan di atas itu. Almasalihu yaitu para pengintai atau penyelidik.
Dari al-Mughirah bin Syu’bah r.a., katanya: “Tiada seorangpun yang lebih banyak pertanyaannya mengenai hal Dajjal daripada saya sendiri. Sesungguhnya Dajjal itu tidak akan membahayakan dirimu.” Saya berkata: “Orang-orang sama berkata bahwa Dajjal itu mempunyai segunung tumpukan roti dan sungai air.” Beliau s.a.w. bersabda: “Hal itu adalah lebih mudah bagi Allah daripada yang dapat dilakukan oleh Dajjal.” (Muttafaq ‘alaih)

Setelah membaca hadits-hadits tentang Dajjal tadi, mari kita teliti dan berpikir lagi siapakah Dajjal itu?
Karena perkataan-perkataan Rasulullah SAW selalu syarat dengan kiasan. Jadi mari berpikir dan cari kebenarannya.

Selasa, 12 Maret 2013

Pelajaran Alam Semesta (sebuah renungan menuju aksi)



Menuntut ilmu adalah wajib, sebagai seorang Muslim saya juga pasti mempelajari Al-Qur'an dan di Kitab suci inipun menjelaskan bahwa menuntut ilmu adalah wajib. tidak sedikit juga hadits-hadits Rasulullah SAW yang menyuruh kita untuk menuntut ilmu. tapi disini saya akan memperjelas bagaimana menuntut ilmu yang sebenarnya.

Sekolah adalah salah satu sarana untuk menuntut ilmu, tapi disana mungkin bisa dikatakan lebih banyak hal-hal negatifnya. mungkin ini bukan karena sekolahnya, tapi karena sistem pendidikannya. Di sekolah kita disuguhkan banyak sekali mata pelajaran, tugas-tugas, hafalan, dll. Dan semua itu adalah penghambat kreatifitas atau bisa dikatakan menunda kita untuk bisa berkarya. Misal kita berencana untuk membuat sebuah Novel, kita sudah menulis beberapa halaman. Tapi setelah itu bermunculan tugas-tugas sekolah, dan mau tidak mau kita pasti terpaksa untuk mengerjakannya. Karena kita takut jika tidak punya nilai. Di Sekolah sebenarnya  kita dijadikan 'Robot' pencari nilai saja, karena jika nilai kita jelek kita takkan dihargai. Ya begitulah sistem Pendidikan di Indonesia.

Apakah kita hanya mendapatkan ilmu di sekolah saja? jawabannya tentu TIDAK. Sebenarnya ilmu itu sudah tersedia lengkap dan tanpa batas di lingkungan kita ini, di alam semesta ini jika kita mau berpikir, mencarinya dan action. Tapi kita malah sering tidak menghiraukannya, dan itulah penyakit sesungguhnya yaitu tidak mau berpikir.

Saya akan memberi salah satu contoh bahwa ilmu itu ada di Alam Semesta ini. Kalian tahu Sir Isaac Newton? nama ini pasti tidak asing ditelinga kita, bahkan ditelinga dunia pun nama ini pasti sudah dikenal. Ya, dialah penemu "Teori Gravitasi". Apakah kalian tahu bagaimana cerita dibalik semua itu?

Suatu hari Newton duduk dan belajar di bawah pohon apel dan saat itu sebuah apel jatuh dari pohon tersebut. Dengan mengamati apel yang jatuh, Newton mengambil kesimpulan bahwa ada sesuatu kekuatan yang menarik apel tersebut jatuh kebawah, dia terus berpikir dan berpikir dan akhirnya dia menemukan jawaban dari semuanya itu. Dan kekuatan itu yang kita kenal sekarang dengan nama Gravitasi.

Begitulah kira-kira cerita dibalik penemuan teori gravitasi tersebut. Jika kita ingin berpikir dan mencari, kita pasti akan menemukan sebuah jawaban jenius. Newton telah membuktikan bahwa ilmu itu dapat dipelajari di lingkungan sekitar, jika kita mau berpikir dan mencari. Dan sekarang waktunya kita untuk mencarinya, seorang Newton pun bisa apalagi kita, kita pasti lebih bisa. Percaya itu.

Ayo kawan mari kita bangkit, kita bangkitkan semangat berilmu kita. Ilmu adalah kekuatan untuk kehidupan nyata. Tanpa ilmu kehidupan tak seindah aslinya. Ayo, tidak usah mencari ilmu jauh-jauh ke Negeri Cina, karena disekitar kita pun ilmu sudah siap untuk disantap. Pengalaman pun adalah ilmu yang harus kita gali kembali dan menyempurnakannya.

"KNOWLEDGE IS THE POWER OF A REAL LIFE "

_Fakkar Dustur Diyaul Haq_


Bolehkah Orang Tua Memukul anaknya?

Permasalahan ini termasuk masalah yang wajib dipahami oleh setiap orangtua. Sikap yang diambil tentunya beragam sesuai dengan kesalahan yang dilakukan anak. Perlu diperhatikan apakah anak memahami kesalahan itu dan mengetahui dosa dan bahayanya ataukah tidak?


Keutamaan berlemah lembut
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
إِنَّ الرِّفْقَ لاَيَكُوْنُ فِيْ شَيْئٍ إِلَّا زَانَهُ وَمَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْئٍ إِلَّا شَانَهُ
“Tidaklah kelemahlembutan ada pada sesuatu kecuali akan menghiasainya dan tidaklah dicabut darinya melainkan akan memperjeleknya ” (HR. Bukhari 2594 dair ‘Aisyah radhiallahu’anha)
Sabda Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam,
مَنْ يُحْرَمُ الرِّفْقَ يُحْرَمُ الخَيْر
“Siapa saja yang dihalangi dari kelemahlembutan maka dihalangi pula dari kebaikan” (HR. Muslim 2542 dari Jabir bin Abdullah radhiallahu’anhu)
Juga sabda Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam,
إِنَّهُ مَنْ أُعْطِيَ حَظُّهُ مِنَ الرِّفْقِ فَقَدْ أُعْطِيَ حَظُّهُ مِنْ خَيْرِالدُّنْيَاوَالأَخِرَة
“Sungguh orang yang telah diberi bagian kelembutan berarti ia telah diberi bagian kebikan dunia dan akhirat” (HR. Ahmad 6/159 dari ‘Aisyah radhiallahu’anha)
Dan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda,
إِذَا أَرَادَ اللهُ بِأَهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا أَدْخَلَ عَلَيْهِمُ الرِّفْقَ
“Jika Allah menginginkan kebaikan bagi sebuah anggota keluarga maka Dia akan memasukkan kelembutan kepada mereka” (HR. Ahmad 6/71, 6/104-105, hadits shahih)
Sabda Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam,
إِنَّ اللهَ رَفِيْقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ
“Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan mencintai kelembutan.” (HR. Muslim 2593 dari ‘Aisyah secara marfu’)
Nasehat lebih baik daripada memukul
Selama dalam perbaikan tidak memerlukan pemukulan maka janganlah memukul. Karena Nabi shallallahu’alaihi wasallam sendiri bila harus memilih antara dua pilihan maka beliau memilih yang paling mudah selama bukan dosa. (HR. Bukhari 3560 dan Muslim 2327 dari ‘Aisyah secara marfu’)
Telah diriwayatkan pula bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tidak pernah memukul sesuatu dengan tangannya sama sekali, tidak kepada istri beliau ataupun pembantu beliau. Beliau hanya memukul ketika berperang dijalan Allah. (HR. Muslim 2328)
Maka kita sebaiknya menggunakan kata-kata nasehat jika ingin memperbaiki perilaku anak atau dengan menggunakan dorongan dan motivasi.
Bila kata-kata yang baik tidak berpengaruh maka kita gunakan kata-kata yang berisi teguran dan ancaman sesuai dengan kesalahan anak. Bila juga tidak bermanfaat maka saatnya memukul. Untuk itu kondisi tabiat anak berbeda-beda.
Diantara mereka ada yang cukup dengan isyarat mata untuk menghukum dan menegurnya. Isyarat mata ini memberikan pengaruh yang kuat pada dirinya dan menjadi sebab berhenti dari kesalahan yang ia lakukan.
Diantara mereka ada yang jika Anda membuang muka darinya maka dia segera paham maksud Anda dan berhenti dari kesalahannya.
Diantara mereka ada yang berubah dengan kata-kata baik. Maka gunakan kata-kata yang baik untuk anak yang seperti ini.
Dan diantara mereka tidaka ada yang membuatnya sadar kecuali harus dengan pukulan dan perlakukan keras. Maka untuk anak tipe seperti inilah kita lakukan pemukulan dan berlaku keras. Akan tetapi sesuai dengan kebutuhan saja serta tidak menjadikannya kebiasaan. Seperti halnya seorang dokter yang memberi suntikan kepada pasiennya walaupun suntikan itu menyakitkan akan tetapi suntikan itu sebatas kadar penyakitnya saja.
Orangtua diperblehkan bersikap keras kepada anak bila anak malas beribadah
Adapun dalil-dalil lainnya yang menunjukkan bolehnya memukul anak bila diperlukan karena anak tidak taat dalam hal yang ma’ruf atau karena mengabaikan perintah kebaikan atau berbuat maksiat, dzalim secara terus menerus diantaranya adalah
• Firman Allah Subhanhu Wa Ta'ala,
وَاللهُ لَايُحِبُّ الفَسَادَ
“Dan Allah tidak menyukai kerusakan.” (QS. AL-Baqarah: 205)
• Firman Allah Subhanhu Wa Ta'ala,
فَلَوْلَا كَانَ مِنَ القُرُوْنِ مِنْ قَبْلِكُمْ أُولُوا بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ الفَسَادِ فِى الأَرْضِ إِلَّا قَلِيْلاً مِمّنْ أنْجَيْنَا مِنْهُم
“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan melarang dari mengerjakan kerusakan di bumi. Kecuai sebagian kecil diantara orang-orang yang telah Kami selamatkan diantara mereka.” (QS. Hud: 16)
Bila kerusakan dan kedzaliman yang timbul dari ulah si anak tidak dapat hilang kecuali dengan pemukulan maka saat itu juga dia harus dupukul.
• Sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam, “Perintahkanlah anakmu shalat pada usia tujuh tahun dan pukullah dia karena (meninggalkan)nya pada usia 10 tahun dan pisahkan tempat tidur mereka.”(HR. Abu Daud no 495 dengan sanad hasan)
• Sikap tegas Abdullah bin Umar kepada anaknya Bilal bin Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma
Dari abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, ‘Jangan kamu cegah istrimu kemasjid jika mereka izin kepadamu keluar menuju kesana.’”
Kemudian Bilal bin Abdullah bin Umar berkata, “Demi Allah aku akan mencegah mereka.”
Ibnu Umar menoleh kepadanya lalu mencela dengan celaan yang belum pernah aku (perowi) dengar sebelumnya dan berkata, “Aku kabarkan kepadamu hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan kamu katakan,’Demi Allah aku akan cegah!.’”
• Tatkala melihat kecerdasan dan keunggulan Ikrimah yang saat itu masih kecil sehingga senang bermain dan lari-lari maka Ibnu Abbas mengikatnya dengan tali agar mau memperlajari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi.
Ikrimah berkata, “Ibnu Abbas pernah merantai kakiku ketika sedang mengajariku Al Qur’an dan Sunnah.” Dalam riwayat lain, “Ketika sedang mengajariku AlQur’an dan ilmu waris.”
Lantas bagaimana kondisi Ikrimah setelah mendapat hukuman itu? Dia menjadi salah seorang ulama besar ahli hadits yang banyak meriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dari Ibnu Abbas dan menjadi ahli tafsir yang handal.
• Begitujuga sikap tegas Abu Bakar Ash Shidiq kepada ‘Aisyah radhiallahu’anhuma. Abu Bakar memukul putrinya karena menyebabkan pasukan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tertunda keberangkatannya dan karenanya sahabat lain mengeluh. Dan kisah lainnya sangatlah banyak sekali untuk disebutkan.
Larangan memukul wajah
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
“Jika salah seorang diantara kalian memukul saudaranya maka hendaknya dia menghindari memukul wajah.” (HR. Muslim 2616 dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu secara marfu’).
***
Diringkas dari buku “Bagaimana Nabi shallallahu’alaihi wasallam Mendidik Anak” (Terjemahan dari kitab Tarbiyatul Aulad), Syaikh Musthafa Al Adawi, Media Hidayah.
Muslimahzone.com

Menghukum Anak Bukan Suatu yang Mendidik (Ayah Edy)

MEDAN-Sebagian besar orangtua sebenarnya tak menginginkan anak-anaknya dihukum, apalagi oleh ‘tangannya’ sendiri. Saat anak terlihat sedih, kecewa, menangis saat dihukum, sungguh hati orangtua pun merasakan perasaan yang sama seperti anak. Tapi dengan alasan demi kepentingan anak itu sendiri kadang menghukum anak memang tak bisa dihindari.

Saat mengajarkan pelajaran  sekolah misalnya.  Orangtua sering terbawa emosi. Dengan mengatakan si anak bodoh, tolol, hingga menghukum si anak dengan fisik. Padahal itu salah sangat tidak mendidik.
Menurut Pakar Multiple Intelegence dan Holistic Learning, Ayah Edy, dalam acara seminar mendidik anak yang diselenggarakan Smart FM di Uniland Plaza baru –baru ini,  anak memiliki perasaan yang sangat peka, dan memori yang cukup tajam. Sehingga perkataan dan perbuatan tersebut, bisa tertanam di otak anak. “Kalau sudah tertanam seperti itu, maka anak akan melakukan sesuai dengan perintah otak,” ujar Ayah Edy dalam seminar 1000 guru, mengajar dengan cinta.
Karena itu, saat mengajari anak, harus menanamkan hal yang baik pada diri sendiri dan juga anak. “Dari orangtua harus ditanamkan, bahwa anak adalah makhluk yang pintar, bijak, dan banyak akal. Sehingga saat anak salahpun kita dapat tersenyum,” lanjutnya.
Salah satu kesalahan dalam mengajari anak adalah kita tidak mengetahui karakter dan permasalahan anak. Dengan masalah sebagai orangtua juga menumpuk. “Cukup mudah, saat berhadapan dengan anak, posisikan diri sebagai anak, bukan orangtua. Bersahabat dengan anak akan memberikan dampak yang baik untuk anak,” lanjutnya.
Untuk menjadi si anak, cukup mudah diterapkan. Pertama cukup dengan tersenyum tulus. “Bila sulit bersandiwara dengan senyum. Senyum dengan bibir lebar minimal 7 detik. Itu akan membuat kita menjadi terkesan tulus,” ungkapnya.
Yang kedua, ubah cara berfikir. Bahwa anak yang terlahir didunia, tidak ada yang gagal. Hanya bagaimana cara kita mendidik, sehingga menjadikan anak lebih kreatif dan sanggup menghadapi tantangan.
Dan yang terakhir, jadilah seperti anak. Bermain, berfikiran bebas, tidak memiliki beban, dan berperasaan peka. “Jadi, jangan pernah menghukum anak dengan menyetrap, memukul, atau menjewer. Apalagi mengeluarkan kata-kata kasar, seperti bodoh, jahat, dan lainnya. Ini sama saja kita menanamkan sifat jelek pada anak,” lanjutnya.
Ayah Edy menjelaskan, selama ini banyak kasus yang ditemukannya dimana orangtua mengharapkan lebih pada anak. Yang akhirnya membuat si anak tertekan. “Pintarnya anak bagaimana kita mendidiknya, dan tentu saja bawaan lahir si anak. Jadi, jangan paksakan anak. Biarkan anak berkembang sesuai dengan permintaannya,” tambahnya.  (ram)

Pendapat Deddy Corbuzier tentang Sekolah di Indonesia

 Artikel ini adalah kata-kata Deddy Corbuzier yang berbicara tentang sistem pendidikan sekolah di Indonesia yang memang harus di perbaiki dan di rubah menjadi lebih baik lagi.
Berikut adalah pembicaraannya, kira-kira seperti ini :

Pertama, sekolah itu PENTING. Tapi banyak hal yang salah di dalam sekolah, terutama di Indonesia. Anda tahu, banyak anak yang tidak baik di sekolahnya tapi besarnya bisa sukses. Sedangkan anak-anak yang sukses di sekolah (bukannya tidak sukses), mereka bekerja sebagai pegawai biasa. Mengapa? Karena masa depan tidak ditentukan oleh sekolah.

Kalau anda lihat, apa sih yang ingin dibentuk oleh sekolah? Menurut saya (Deddy Corbuzier) hanya satu, sekolah ingin membentuk anak didiknya menjadi guru. Ya, guru matematika ingin anak didiknya menjadi guru matematika dan guru sejarah ingin anak didiknya menjadi guru sejarah. Begitu juga dengan guru-guru lainnya. Misal kita ambil satu guru, guru matematika jika kita tes geografi maka dia tidak akan bisa mendapatkan nilai yang baik. Lalu mengapa jika guru-guru tersebut tidak bisa melakukan hal-hal yang lain dengan baik sedangkan semua murid dipaksa mendapakan semua nilainya baik? Jika gurunya saja hanya menguasai satu mata pelajaran mengapa murid harus mengetahui semua mata pelajaran? Untuk dasar katanya. Toh guru tersebut juga sadar, saat dia dewasa dia tidak menggunakan semua mata pelajaran yang diberikan waktu kecil. Karena pada dasarnya tidak ada manusia yang sempurna dalam segala hal, begitu juga dengan murid-murid. Murid-murid tidak akan bisa menguasai semua hal dengan baik. Dan banyak pelajaran-pelajaran yang diberikan tidak digunakan ketika dewasa.


Sekarang apanya yang mesti dirubah, sekolahnya atau sistemnya? Mengapa tidak sejak kecil ketika anak masuk SD kita lihat dulu berapa lama lalu kita bagi kelasnya? Kalau memang anak ini suka matematika, berika dia pelajaran matematika lebih banyak. Seperti orang kuliah tapi sejak kecil. Jadi sejak kecil anak ini dijuruskan ke pelajaran yang dia suka. Bukan dijejalkan dengan semua pelajaran yang dia suka atau tidak suka harus bisa, harus hafal.

Ada anak yang pintar, bisa menghafal semua tapi ketika dewasa pikirannya telah terkotaki, kreatifitasnya telah buntu, otak kanannya tidak akan jalan karena yang dipakai otak kirinya untuk menghafal, menghafal, menghafal.. Akhirnya bukan pintar, bukan cerdik tapi jago menghafal. Dan biasanya anak seperti itu pelajaran olah raga atau seninya tidak baik, karena otak kanannya tidak dipakai.

Untuk merubahnya butuh tahunan, tapi saya harap suatu saat bisa. Kalau orang tua mendukung apa yang anak suka dalam mata pelajaran, mungkin akan menjadi anak yang berhasil kedepannya. Misal pelajaran matematika jelek lalu pelajaran seni bagus, lalu mengapa yang dileskan pelajaran matematika? Mengapa tidak dileskan apa yang memang anak itu suka? Jika matematika jelek, biarkan jelek. Pelajaran yang disukai dibantu orang tua supaya lebih bagus. Memang ada pelajaran tertentu yang jika kurang akan menyebabkan anak tidak naik kelas. Kalau yang seperti itu dibantu secukupnya, tidak perlu sembilan atau sepuluh. Anda rangking satu di kelas tidak akan menjamin anda sukses ketika dewasa. Sama sekali tidak berhubungan.

Kuncinya adalah orang tua, orang tua harus mendukung apa yang anak suka. Kalau ada pelajarang yang jelek dan baik, dukung pelajaran yang nilainya baik. Jangan paksa anak untuk mempelajari yang nilainya jelek menjadi nilainya sembilan atau sepuluh. Tidak perlu takut untuk mendapat nilai jelek, tidak perlu takut untuk tidak naik kelas. Tidak naik kelas bukan berarti masa depan anda hancur. Saya harap orang-orang tua di Indonesia mendukung anak-anaknya, tidak memarahi anak-anaknya ketika ada nilai yang jelek.

Sekali lagi, masa depan anak tidak tergantung dari pintar tidaknya ketika di sekolah. Masa depan anak tidak tergantung dari naik atau tidak naik kelas. Masa depan anda juga tidak tergantung dari rapor. Tapi masa depan anda sebenarnya tergantung dari cara anda bersosialisasi, menambah pengetahuan setiap hari yang bisa didapat dari mana-mana; dari internet, dari buku, dari cerita , dari pengalaman orang lain yang anda suka. Karena masa depan bukan tergantung dari nilai sekolah anda, tapi masa depan ada di tangan anda. Jangan takut mendapatkan nilai merah, karena kadang merah artinya sukses untuk masa depan.

~ Dedi Corbuzier